Masjid Terapung Kota Bima

Muhamad Albimawy .

Jelajah Alam Bersama Siswa - Siswi

Muhamad Albimawy ( Baba Tampan ).

Program Pusdatin Pembatik Level 4

Muhamad Albimawy ( Baba Tampan ).

Program Sekolah Penggerak Dhuha Ceria Malaju

Muhamad Albimawy ( Baba Tampan ).

PUISI ANAK: JEJAK BUDAYA

 


Pagi menyapa halaman,

angin bergerak perlahan.

Aku melihat jejak budaya,

tersimpan dalam kehidupan.

Ada kain yang indah,

ada cerita dari leluhur.

Ada tarian, lagu, dan bahasa,

yang diwariskan dengan jujur.

Aku ingin menjaganya,

bukan sekadar mengaguminya.

Aku belajar dari cerita lama,

agar budaya tetap bernyawa.

Negeri ini rumah bersama,

budaya adalah kekayaan.

Menjaga warisan yang berharga

menjadi tugas setiap generasi.

“Puisi Anak: Jejak Budaya” merupakan puisi bertema budaya yang mengajak anak mengenal berbagai warisan budaya yang hidup di tengah masyarakat. Puisi menggambarkan budaya melalui kain, cerita leluhur, tarian, lagu, dan bahasa yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Puisi ini tidak hanya mengajak anak untuk mengenal dan mengagumi budaya, tetapi juga menumbuhkan kesadaran untuk menjaga dan melestarikannya. Pesan tersebut tergambar melalui ungkapan “bukan sekadar mengaguminya”, yang menekankan bahwa kecintaan terhadap budaya perlu diwujudkan melalui tindakan nyata.

Ilustrasi yang menyertai puisi menampilkan seorang siswi yang sedang membaca buku tentang cerita leluhur. Di sekitarnya terdapat berbagai unsur budaya, seperti kain tradisional, alat musik, topeng, kegiatan seni tradisional, serta rumah tradisional. Visual tersebut memperkuat pesan bahwa budaya dapat dikenalkan kepada anak melalui literasi, seni, pengalaman, dan lingkungan sekitar.

Puisi ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan bacaan dan stimulus pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar, khususnya untuk mengembangkan kemampuan memahami isi puisi, menemukan nilai yang terkandung di dalamnya, serta menghubungkan pesan puisi dengan kehidupan sehari-hari.


Sang Penjaga Putih di Hamparan Hijau

 Matahari pagi mulai menghangatkan hamparan persawahan yang hijau membentang. Di sudut petak sawah, Pak Karta tersenyum kecil sambil menyeka peluh di dahinya. Matanya tertuju pada sesosok makhluk anggun berbulu putih bersih yang tampak begitu memukau, kontras dengan rimbunnya tanaman padi. Seekor burung kuntul berdiri tegak, kaki panjangnya menapak stabil di atas lumpur, sementara leher rampingnya meliuk bersiap melakukan pengamatan yang tenang.

Bagi burung kuntul itu, petak sawah yang berair ini adalah arena perburuan yang kaya. Ia melangkah sangat perlahan, seolah enggan membuat riak air sekecil apa pun saat mengintai di air dangkal. Matanya yang tajam menatap tak berkedip ke permukaan air. Kesabarannya adalah kunci. Tiba-tiba, gerakannya terhenti total. Waktu seakan membeku, sebelum akhirnya paruh runcingnya melesat secepat kilat!

Terdengar percikan kecil. Saat kepalanya kembali terangkat, seekor mangsa meronta di jepitan paruhnya yang kuat. Sebuah penangkapan yang sangat efisien. Setelah menelan makanannya, sang penjaga putih itu kembali mengawasi sekeliling, mencari ikan-ikan kecil, serangga, atau katak yang kerap mengusik tanaman.

Di kejauhan, Pak Karta kembali bekerja dengan perasaan tenang. Ia dan petani lainnya merawat saluran air agar sawah tetap menjadi tempat hidup yang baik bagi burung-burung ini. Ia tahu, mereka saling membutuhkan. Burung kuntul membantu menekan hama, sementara sawah menyediakan kehidupan; sebuah harmoni alam yang indah di mana keseimbangan lingkungan tetap terjaga

Pemimpin yang Mau Mendengarkan

 

Di tepi hutan, para hewan berkumpul untuk membahas keadaan sungai. Air sungai mulai keruh karena ranting dan daun menumpuk di beberapa tempat. Mereka sepakat membersihkan sungai sebelum musim hujan tiba.

Raka, sang rusa muda, mengusulkan agar mereka memilih seorang pemimpin. Ia mengajukan diri. Beberapa hewan masih ragu karena Raka belum pernah memimpin kegiatan bersama.

Sinta, sang burung bangau, mengusulkan agar setiap hewan menyampaikan kemampuan masing-masing. Raka menyetujui usul itu. Berang-berang mengatakan bahwa ia pandai membuka saluran air. Kancil mampu menemukan bagian sungai yang tersumbat. Bangau dapat melihat keadaan sungai dari tempat tinggi.

Setelah mendengar semua pendapat, Raka membagi tugas. Ia meminta setiap hewan melakukan pekerjaan sesuai kemampuannya. Keesokan harinya, hujan turun deras. Ranting memenuhi beberapa bagian sungai. Berang-berang membuka saluran air. Kancil mencari bagian yang tersumbat. Bangau mengamati keadaan sungai dari atas. Raka mengatur pekerjaan mereka dan mengingatkan semua hewan agar saling membantu.

Setelah bekerja bersama, sungai kembali bersih. Sinta berkata bahwa Raka telah menjadi jembatan bagi semua hewan. Raka memahami bahwa seorang pemimpin perlu mendengarkan pendapat dan menghargai kemampuan anggota.